Thursday, April 28, 2011

Sejarah Yogurt



Tak sengaja ditemukan di sebuah zaman, sampai sekarang “susu basi” ini jadi hidangan lezat nan sehat.

SEJAK ratusan atau ribuan tahun lalu yogurt diyakini sebagai nutrisi kesehatan. Banyak orang mengkonsumsinya secara rutin. Selain meningkatkan daya tahan tubuh, yogurt berkhasiat menurunkan kadar kolesterol jahat dan menyembuhkan radang sendi.

Tak ada yang tahu pasti kapan dan bagaimana yogurt ditemukan. Neil R. Gazel dalam Beatrice: From Buildup Through Breakup mencatat apa yang sekarang dikenal sebagai yogurt mungkin sudah dikenal sejak zaman batu. Ia sudah disebutkan dalam Iliad karya Homerus dan Injil. Sementara Don Tribby dalam “Yogurt”, dimuat dalam buku The Sensory Evaluation of Dairy Products karya Stephanie Clark, Michael Costello, Floyd W. Bodyfelt, dan Maryanne Drake menyebut yogurt sudah ada sejak zaman Mesopotamia sekira tahun 5000 SM, tanpa kesengajaan.

Kala itu para penggembala di Mesopotamia terbiasa membawa susu kambing atau domba dalam kantong berbahan perut hewan –yang secara alami mengandung enzim chymosin. Dalam beberapa jam susu menggumpal. Para penggembala pun heran dan berpikir kualitas susu sudah menurun. Tapi mereka tetap mengkonsumsinya. Lambat laun, mereka lebih suka susu beku ketimbang susu murni nan segar.
Orang-orang di kawasan Kaukasus, Rusia, yang nomaden juga punya tradisi memproduksi dan mengkonsumsi yogurt, yang mereka sebut kefir, sejak berabad-abad silam. Karena bermanfaat bagi kesehatan, kefir memiliki reputasi sebagai “minuman penyembuh” dan “hadiah dari para dewa”. Di timur, orang-orang Mongolia menyebutnya kumiss. Jenghis Khan salah satu yang paling gandrung makanan ini. Dia suka rasanya. Sampai-sampai dia mengeluarkan perintah resmi agar pasukannya, dari jenderal hingga budak terendah, mengkonsumsinya secara teratur. Setelah menaklukkan Mongolia pada 1215, “Khan percaya bahwa sebagian keberhasilan militernya dikaitkan dengan fakta bahwa pasukannya tetap kuat dan sehat dengan mengkonsumsi produk bergizi, kumiss,” tulis Don Tribby.

Eropa Barat baru mulai bersinggungan dengan yogurt pada 1500-an. Ini berawal dari sakit diare kronis yang diderita Raja Prancis Francois I dan tak sembuh-sembuh meski berulangkali berobat. Raja Suleiman I mengirimkan seorang dokter dari Konstantinopel, Turki. Si dokter memberikan ramuan yang terbuat dari fermentasi susu domba kepada Francois I dan … sembuh. Francois I menyebarluaskan kemujaraban yogurt. Orang-orang Eropa pun mulai mengenal yogurt.

Pada awal 1900-an yogurt mendapat perhatian global. Ini berkat jasa bakteriolog Rusia Ilya Metchnikov yang mempublikasikan risetnya. Dia meneliti panjangnya umur rata-rata orang etnis tertentu di Bulgaria. Terpengaruh oleh Dr Stamen Grigorov, pakar mikrobiologi Bulgaria lulusan Jenewa yang kali pertama menemukan bakteri yang jadi elemen dasar pembentuk yogurt, lactobacillus bulgaricus, dia melakukan riset. Hasilnya, dia mendapati bahwa rata-rata orang Bulgaria mengkonsumsi yogurt ataupun produk-produk susu lainnya. “Dia menerima Hadiah Nobel (Fisiologi atau Kedokteran tahun 1908) dan popularitas yogurt pun meningkat secara signifikan,” tulis Don Tribby.

Orang-orang Turki merupakan salah satu pengonsumsi awal yogurt. Sebelum menetap di Semenanjung Anatolia, mereka adalah nomaden, “yang terpaksa menyimpan susu perahan ternak mereka agar tak kelaparan,” tulis Ishtla Singh dalam “Bahasa, Pikiran dan Representasi”, dimuat dalam Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan. Kutadgu Bilig karya Yusuf Has Hajib dan Diwan Lughat al-Turk karya Mahmud Kashgari mencatat penggunaan yogurt oleh mereka pada masa Abad Pertengahan. Kata “yogurt” sendiri berasal dari bahasa Turki, bermakna ”yang akan dibekukan atau digumpalkan, untuk mengentalkan”.

Setidaknya pada 1784, imigran Turki memperkenalkan yogurt ke Amerika. Tapi popularitas yogurt dimulai pada akhir 1930-an dan 1940a-n ketika Columbo dan Danone (kemudian menjadi Dannon) memulai bisnis yogurt.

Isaac Carasso, imigran Yunani di Spanyol, salah satu yang menjadikan yogurt sebagai produk industri. Pada 1919, dia merintis bisnis kecil-kecilan di Barcelona. Lewat perusahaan Danone (“Daniel kecil”), usahanya berkembang pesat. Tujuh tahun kemudian dia mendirikan pabrik lain di Paris, Prancis. Anak Isaac, Daniel Carasso, mengambil-alih kendali perusahaan ketika ayahnya meninggal pada 1940.

Ketika Mei 1940 Jerman menduduki Prancis, Nazi menyita pabrik Danone. Daniel mengungsi ke New York dan membeli Oxy-Gala, perusahaan yogurt di Bronx, dan mengganti namanya jadi Danone –lalu Dannon, khusus untuk AS. Meski merangkak, Dannon terus maju. Mereka juga melakukan sejumlah inovasi. Pada 1947, Dannon memperkenalkan yogurt dengan tambahan selai dan rasa buah agar lebih menarik bagi selera Amerika. Di Amerika, Dannon harus bersaing dengan produsen serupa yang sudah hadir duluan. Para imigran Turki sudah memperkenalkan yogurt ke daratan Amerika pada akhir abad ke-18.

Reputasinya sebagai makanan kesehatan membuat yogurt populer di sana. Pada penghujung 1950-an, Dannon sebagai penguasa pasar berhasil menjualnya hampir senilai tiga juta dolar per tahun. Belum lagi merek-merek lain dan produk yang diproduksi di bisnis susu di AS yang tumbuh paling cepat dalam dekade terakhir. Namun, itu masih belum apa-apa bila dibandingkan dengan Eropa.

“Konsumsi per kapita kita sangat kecil dibandingkan dengan orang Eropa. Pada 1980, orang Amerika rata-rata hanya sanggup menghabiskan 2,6 pound (sekitar 5 cangkir), sedangkan rata-rata orang Prancis 40 cangkir, orang Belanda 60 cangkir, dan Swiss 300,” lanjut New York Magazine.

Orang Eropa merupakan konsumen yogurt terbesar. Mereka pula yang kemungkinan besar membawa masuk yogurt ke Hindia Belanda. Di situsweb salah satu produsen yogurt nasional, Cimory, tertulis bahwa sapi-sapi di peternakan itu, yang diambil susunya, kali pertama dibawa dari Belanda. Kelebihan sapi Belanda: tinggi kalsium. Di Bandung, kafe Cisangkuy yang berdiri sejak 1969 dikenal sebagai penyedia aneka yogurt.

Kini, yogurt diproduksi dalam beragam bentuk, metode pembuatan, cita rasa, kandungan lemak, dan proses pascafermentasi. Silakan Anda pilih. Dijamin lezat dan sehat.

No comments:

Post a Comment